Mengapa Setiap Orang Tiongkok Mengenal Jin Yong

Mintalah setiap orang Tionghoa yang berusia di atas 25 tahun untuk menyebutkan nama karakter Jin Yong. Mereka tidak akan ragu. Mereka mungkin menyebutkan nama Guo Jing, Huang Rong, Xiao Feng, Linghu Chong, atau Wei Xiaobao — tetapi mereka akan menyebutkan nama seseorang, secara instan, tanpa berpikir. Mintalah mereka untuk mendeskripsikan karakter tersebut, dan mereka akan berbicara selama dua puluh menit.

Sekarang cobalah eksperimen yang sama dengan novelis lainnya. Anda tidak akan mendapatkan hasil yang sama. Tidak dengan Lu Xun (鲁迅), tidak dengan Mo Yan (莫言), tidak dengan penulis mana pun dalam bahasa apa pun. Jin Yong menempati posisi unik dalam kebudayaan Tiongkok: dia tidak hanya dibaca secara luas, dia juga dikenal secara universal. Dan ada alasan khusus mengapa hal tersebut terjadi.

Efek Serialisasi

Novel Jin Yong awalnya diterbitkan sebagai serial surat kabar di Ming Pao (明报) dan New Evening Post (新晚报) Hong Kong. Artinya, membaca Jin Yong bukanlah aktivitas yang dilakukan sendirian—melainkan merupakan ritual sehari-hari bersama. Jutaan orang membaca bab yang sama pada hari yang sama dan mendiskusikannya dengan teman, keluarga, dan rekan kerja.

Serialisasi ini menciptakan pengalaman membaca sosial yang tidak dapat ditiru oleh buku saja. Jika Anda tidak membaca bab hari ini, Anda tidak akan dilibatkan dalam percakapan. Tekanan sosial untuk mengikutinya sangat besar, dan itu berarti jumlah pembaca Jin Yong jauh melampaui orang-orang yang biasanya membaca novel.

| Saluran Distribusi | Zaman | Jangkauan | |------|-----|-------| | Serialisasi surat kabar | 1955-1972 | Hongkong, Asia Tenggara | | Edisi buku bajakan | 1960an-1980an | Taiwan, Asia Tenggara, Tiongkok Daratan (bawah tanah) | | Publikasi resmi daratan | 1980-an-sekarang | Seluruh Tiongkok | | Adaptasi televisi | 1970-an-sekarang | Semua wilayah berbahasa Mandarin | | Internet/digital | 2000an-sekarang | Diaspora Tiongkok Global |

Setiap saluran membawa Jin Yong ke pemirsa baru. Pembaca surat kabar tahun 1950-an menjadi orang tua yang memperkenalkan novel kepada anak-anaknya pada tahun 1980-an. Adaptasi TV tahun 1990-an menjangkau orang-orang yang tidak membaca novel sama sekali. Internet membuat teks-teks tersebut tersedia secara gratis bagi siapa saja yang memiliki koneksi.

Pengganda Televisi

Membaca novel membutuhkan waktu, literasi, dan kecenderungan. Menonton televisi memerlukan sofa. Inilah sebabnya mengapa adaptasi TV menjadi faktor terbesar yang membuat Jin Yong menjadi universal.

Pada tahun 1980an dan 1990an, rumah tangga di Tiongkok biasanya memiliki satu televisi. Seluruh keluarga menonton bersama. Saat adaptasi Jin Yong ditayangkan, kakek-nenek, orang tua, dan anak-anak menonton acara yang sama. Hal ini menciptakan keakraban lintas generasi yang tidak dapat dicapai oleh produk budaya lain.

Adaptasi tersebut juga membuat Jin Yong dapat diakses oleh orang-orang dengan kemampuan baca tulis terbatas – penduduk pedesaan, orang lanjut usia yang tidak mengikuti pendidikan formal selama Revolusi Kebudayaan, dan anak-anak yang terlalu kecil untuk membaca novel. Televisi mendemokratisasi Jin Yong dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh media cetak.

Faktor Waktu

Novel Jin Yong tiba pada saat yang tepat dalam sejarah Tiongkok. Pertimbangkan garis waktunya:

1950-an-1960-an: Hong Kong adalah koloni Inggris yang dipenuhi pengungsi dari daratan Tiongkok. Masyarakat menjadi terlantar, cemas, dan haus akan cerita tentang identitas dan kepahlawanan Tiongkok. Jin Yong memberi mereka hal itu — novel berlatar sejarah Tiongkok, menampilkan pahlawan Tiongkok, ditulis dalam bahasa Tiongkok, merayakan budaya Tiongkok.

1980-an: Tiongkok membuka diri setelah Revolusi Kebudayaan. Seluruh generasi haus akan hiburan dan budaya. Novel Jin Yong membanjiri — pertama sebagai salinan bajakan, kemudian sebagai edisi resmi. Bagi orang-orang yang menghabiskan satu dekade hanya membaca propaganda politik, Jin Yong adalah sebuah wahyu. Novel-novelnya menarik, kaya secara emosional, dan — yang terpenting — cukup apolitis untuk diizinkan oleh pihak berwenang.

1990an-2000an: Ledakan ekonomi. Meningkatnya nasionalisme. Tumbuhnya minat terhadap budaya tradisional Tiongkok. Novel-novel Jin Yong, dengan perayaan sejarah, filsafat, dan seni bela diri Tiongkok, sangat cocok dengan momen budaya.

Di setiap titik kritis dalam sejarah Tiongkok modern, novel-novel Jin Yong hadir, menawarkan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat. Pada tahun 1950an: identitas. Pada tahun 1980an: kebebasan. Di tahun 2000an: kebanggaan.

Arsitektur Emosional

Novel Jin Yong bekerja pada tingkat emosional yang melampaui analisis sastra. Mereka berisi adegan-adegan yang tertanam dalam memori kolektif budaya Tiongkok: - Xiao Feng di Jalur Yanmen (萧峰雁门关, Xiāo Fēng Yànmén Guān) — Momen ketika Xiao Feng, setelah mengetahui bahwa dirinya berasal dari etnis Khitan dan bukan Tionghoa Han, berdiri di antara dua pasukan dan memilih kematian daripada perang. Orang Tionghoa yang membaca atau menonton adegan ini saat remaja membawanya seumur hidup.

- Yang Guo menunggu enam belas tahun (杨过十六年等待) — Yang Guo menunggu enam belas tahun di tepi tebing demi Xiao Longnui, yang dia yakini sudah mati. Ketika dia akhirnya muncul, pelepasan emosinya luar biasa. Adegan ini telah membuat pria dewasa menangis selama beberapa generasi. - Guo Jing membela Xiangyang (郭靖守襄阳) — Kegagalan Guo Jing mempertahankan Xiangyang dari invasi Mongol. Dia tahu dia akan kalah. Lagipula dia tetap tinggal. Ungkapan "侠之大者,为国为民" (xiá zhī dà zhě, wèi guó wèi mín — "pahlawan sejati melayani bangsa dan rakyat") berasal dari alur cerita ini dan telah menjadi salah satu baris yang paling banyak dikutip dalam budaya populer Tiongkok.

Adegan-adegan ini bukan sekadar titik plot. Itu adalah tanda emosional yang dimiliki oleh orang-orang Tiongkok. Merujuk pada mereka menciptakan hubungan emosional instan - sama seperti orang Amerika terikat pada kenangan bersama tentang adegan film atau momen bersejarah tertentu.

Fungsi Identitas

Pada tingkat terdalam, novel Jin Yong membantu orang Tionghoa menjawab pertanyaan: "Apa artinya menjadi orang Tionghoa?"

Ini bukanlah pertanyaan sederhana. Tiongkok sangat besar, beragam, dan memiliki hubungan yang rumit dengan sejarahnya sendiri. Revolusi Kebudayaan mencoba menghancurkan budaya tradisional. Modernisasi dan Westernisasi telah mengubah kehidupan sehari-hari hingga tak dapat dikenali lagi. Perbedaan regional dalam bahasa, masakan, dan adat istiadat sangat besar.

Novel-novel Jin Yong memberikan titik referensi budaya bersama yang melampaui perpecahan ini. Seorang pengusaha berbahasa Kanton di Hong Kong, seorang profesor berbahasa Mandarin di Beijing, dan seorang nenek berbahasa Hokkien di Singapura semuanya dapat mendiskusikan karakter Guo Jing dengan keakraban yang sama. Jin Yong adalah salah satu dari sedikit batu ujian budaya yang menyatukan seluruh dunia berbahasa Mandarin.

Novel-novelnya juga menghadirkan visi budaya Tiongkok yang ingin diidentifikasi oleh orang-orang: berani, terhormat, berbudaya, canggih secara filosofis, dan sangat manusiawi. Jianghu mungkin fiksi, tetapi nilai-nilai yang diwakilinya — kesetiaan (义, yì), kebenaran (侠, xiá), dan kasih sayang (仁, rén) — adalah nilai-nilai yang diakui oleh masyarakat Tiongkok sebagai milik mereka. Jelajahi lebih lanjut: Referensi Jin Yong dalam Kehidupan Sehari-hari Tiongkok Modern.

Efek Jaringan

Pengetahuan budaya mempunyai efek jaringan: semakin banyak orang yang mengetahui sesuatu, semakin berharga untuk mengetahuinya. Jin Yong melewati titik kritis beberapa dekade lalu. Mengenal Jin Yong bukanlah suatu pilihan dalam budaya Tiongkok — itu adalah infrastruktur.

Jika Anda tidak mengenal Jin Yong: - Anda akan kehilangan referensi dalam pertemuan bisnis - Anda tidak akan mengerti setengah dari lelucon di media sosial - Anda akan bingung dengan judul acara TV dan plot film - Anda akan kekurangan kosa kata bersama dengan kolega, teman, dan keluarga - Anda akan kehilangan makna emosional dari percakapan yang tak terhitung jumlahnya

Hal ini menciptakan siklus penguatan diri. Orang tua mengenalkan anak pada Jin Yong karena tahu referensinya akan bermanfaat. Sekolah memasukkan Jin Yong dalam daftar bacaan karena literasi budaya diharapkan. Jaringan TV terus memproduksi adaptasi karena penontonnya terjamin. Dan siklus itu terus berlanjut.

Setiap orang Tionghoa mengenal Jin Yong karena setiap orang Tionghoa mengenal Jin Yong. Bentuknya melingkar, namun nyata. Dan itulah mengapa pengaruhnya akan bertahan lama setelah orang terakhir yang membaca serial surat kabar aslinya meninggal.

Novel bukan sekadar cerita. Itu adalah impian bersama tentang sebuah peradaban. Dan Anda tidak bisa memilih keluar dari impian sebuah peradaban.

Tentang Penulis

Pakar Jin Yong \u2014 Kritikus sastra dan penerjemah yang didedikasikan untuk karya-karya Jin Yong.